Guru Aku Menggugatmu

Guruku .. engkau adalah sosok penting dalam perjalanan hidupku. Betapa tidak, masa kecilku hingga kini enkau tahu liku-likunya. Aku masih teringat ketika pertama kali masuk kelas 1, melihatmu bagaikan sesosok pahlawan yang kukagumi melebihi Bapakku.

Guruku .. seiring berjalannya waktu , engkau ajarkan aku banyak hal. Ilmu yang bermanfaat bagiku, keahlian-keahlian mulai dari memasang tali sepatu hingga berpidato dan membuat lukisan, kedisiplinan hingga aku sekarang tidak pernah lupa membawa topi di hari senin, menyapu di hari rabu waktu piketku, masuk kelas dengan salam dan tidak ramai ketika engkau datang di kelas.

Guruku … seperti yang tadi aku beritahukan, bahwa aku sungguh mengagumimu. Jangankan pakaianmu, langkah sepatumu di serambi kelaspun aku hapal. Terkadang beberapa kali gayamupun aku tirukan di depan kaca rumahku ketika sepi. Berharap suatu saat nanti bisa menjadi sepertimu.

Tahukah kau guruku … hal yang paling menancap dihatiku adalah nasehat-nasehatmu. Engkau selalu berkata “jadilah anak baik” , sering terdengar di telinga “jangan malas” , setiap sore dan malam hari terngiang di telinga ” Belajarlah yang rajin anakku” , kau juga pernah berkata “Jadilah anak yang jujur dan jangan suka bohong”. Semua nasehatmu berusaha kami lakukan walau terkadang kami belum bisa.

Namun hari ini aku menggugatmu guruku ! … dengan kekecewaan yang berat aku sampaikan keberatanku. Dalam kebimbangan aku tulis ini untuk mengancammu, aku engkau mau membaca dan mendengarnya. Maaf sebelumnya ….

Guruku … disaat puncak semangat kami menyongsong ujian, disaat persiapan matang telah kita lakukan, ketika lantunan doa-doa sakral telah kita haturkan, ketika seluruh energi kami fokuskan untuk membuat engkau bangga, mengapa engkau katakan

“anakku, jangan lupa. bantulah temanmu yang tidak bisa dalam ujian nasional! “

“anakku, lihatlah kanan-kirimu ! mintalah bantuan jika kamu tidak mampu, yang penting jangan ramai dan mencolok”

“anakku, kasihanilah temanmu, berilah contekkan agar nilainya baik dan bisa masuk smp yang bagus”

“anakku, bekerjasamalah dalam ujian, bila hasilnya baik akan dapat kalian gunakan ke smp yang baik dan bisa jadi orang sukses”

Ketika engkau katakan itu, aku seakan-akan tidak lagi mengenalmu

aku melihatmu menggiringku dalam lubang dosa dan kemunafikan, aku melihatmu dengan lidah yang menjulur dan sepasang tanduk tumbuh di ujung kepalamu, aku melihatmu membagikan makanan yang telah basi dan engkau paksakan untuk kami makan.

Guruku … mana nasehat bijakmu itu ?, Masih jelas di kuping kami sebelah kanan “mata uang yang berlaku dimanapun adalah kejujuran” , kemanakah kini nasehatmu itu ??? engkau berkata ” jujurlah dalam setiap kata tindakmu, dan tunggulah kesuksesanmu” , kemanakah kata itu ????

Engkau bilang ini untuk kebaikan kami. benarkah ??

Engkau bilang “Jika nilaimu baik kamu akan dapat masuk ke smp bagus dan membuka jalan kesuksesanmu ” , namun Bukankah nasib hanya ALLAH yang menentukan, bukan nilai ? aku malah takut jika ketidak jujuran ini aku bawa hingga kelak dewasa, aku akan haus harta dan menghisap darah rakyat jelata.

Engkau bilang ” Kasihanilah temanmu yang tidak mampu ” . Bukanku itu malah akan menjerumuskannya ke dalam lembah kebodohan dan kemnunafikan ? Bukankah nilai tidak akan bisa menentukan kesuksesan seseorang ?

Guruku.. aku menggugatmu dengan tindakanmu. Bila engkau berani berbuat curang hanya untuk mencari nilai untuk kami , lalu harus kepada siapa lagi kami harus bertauladan. Bila engkau berani curang hanya untuk nilai , lalu apa artinya latihan yang kita lakukan selama ini, apa gunakan doa bersama yang kita selenggarakan, lalu apa artinya kehadiranmu di kelas setiap hari ?

Guruku ..

AKU MENGGUGATMU ! @$#@&

Posted on 4 Juni 2012, in Artikel and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Hal seperti inilah yang menjadi derajat seorang guru menjadi rendah, dengan dalih menjaga brand sekolah.😛
    Tulisannya sangat menarik, semoga bisa membuka mata hati para guru.

    • guru Indonesia harus bisa membuang paradigma2 seperti ini. harus mau bekerja keras mendidik generasi ini dengan benar. kalau tidak berhenti saja jadi guru, masih banyak profesi lain yang bisa Anda lakukan😦

  2. Profesi seorang guru sangat mulia. Hendaknya seorang guru harus mengerti nilai-nilai pendidikan dan pengajaran. Semoga bertambah maju pendidikan indonesia, amien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: